Minggu, 23 November 2008

Kesederhanaan Ahmadinejad, cermin untuk para Capres


Pemilu saat ini sudah bersiap menyambut kita. Sejumlah tokoh pun sudah bermunculan. Mereka menganggap yang paling bisa dan tepat menjadi pemimpin. Tapi taukah anda pemimpin apa yang telah di contohkan Rasulullah ? Sikap Sederhana. Inilah yang kini di tunjukan Presiden Iran , Mahmoud Ahmadinejad.

Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden seperti ini ?

Suatu ketika Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:

"Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"

Jawabnya : "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya."Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."

Berikut adalah bagaimana penyiar menggambarkan dirinya.


Ulama adalah posisi yang paling tinggi dimata Ahmadinejad
Ahmedi Najad, adalah presiden Iran yang membuat orang ternganga, karena pada saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Iran Istana yang sangat tinggi nilai maupun harganya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, eko nomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan.

Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 sepertikarpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.

Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?

Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipulikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.

Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka.

Dan foto terakhir memperlihatkan ruang makan dimana presiden sedang menikmati makanannya.

Itulah Pribadi Seorang Ahmadinejad, Seorang Presiden Iran yang namanya di takuti Amerika Serikat. Adakah Calon presiden kita yang seperti ini ?
sumber : www.swaramuslim.com

Kamis, 21 Agustus 2008

Membuat Surat Lamaran Kerja yang memikat

Persyaratan administratif merupakan pintu pertama yang harus Anda lewati untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk itu, surat lamaran pekerjaan harus dibuat sebaik mungkin, agar benar-benar bisa mewakili kualitas Anda.
Ada beberapa tips melamar pekerjaan :
1. Lamarlah pekerjaan yang Anda minati dan sesuai dengan kualifikasi.
2. Buatlah surat lamaran yang terkesan personal, khusus untuk perusahaan yang dimaksud. Jangan membuat surat lamaran yang sudah diformat secara standar atau menjiplak mentah-mentah dari buku.
3. Usahakan surat tersebut singkat, faktual, dan menarik, dengan bahasa yang jelas. Pastikan tidak ada kesalahan ejaan atau tatabahasa. Bila ada koreksi, sebaiknya ketik dan cetak ulang saja. Dan yang tak kalah penting, tujukan surat kepada kepada seseorang yang spesifik.
4. Tulis surat lamaran yang singkat dan padat, maksimal satu halaman. Dan jangan lupa, sertakan resume atau curriculum vitae (CV) yang memberi kesan positif tentang Anda.
5. CV sebaiknya memberi detail tentang latar belakang pendidikan, keterampilan-keterampilan yang Anda miliki, pengalaman kerja (full-time, part-time, atau freelance yang memberi Anda kompetensi tertentu untuk melakukan suatu pekerjaan), aktivitas (organisasi, masyarakat, olahraga) dan prestasi (di sekolah maupun luar sekolah) yang pernah Anda raih.
Ciri CV yang baik adalah ditulis dengan rapi, sederhana, jujur, dan akurat. Susunlah dengan baik agar penyampaian informasi terlihat menarik serta mudah dibaca. Misalnya, dengan memberikan jarak (margin) pada semua sisi CV Anda sebesar 1 inci. Bagian putih ini membuat CV Anda terlihat menarik, bersih, dan mudah dibaca sekaligus memberi tempat bagi calon atasan untuk membubuhkan catatan langsung di situ.
6. Baca dan periksa ulang surat lamaran serta CV Anda. Pastikan bahwa tidak ada kesalahan tipografis, tata bahasa, bahasa yang diulang-ulang, layout yang kurang rapi, ataupun kesalahan lain. Suatu kesalahan dalam ejaan saja bisa menyebabkan Anda kehilangan kesempatan yang penting untuk memperoleh pekerjaan.
7. Anda juga bisa membaca literatur yang tersedia di toko-toko buku

Jumat, 18 Juli 2008

Bangga Jadi Orang Indonesia


(diposting dari sebuah millis)

Anda orang Indonesia?
Masih tinggal di Indonesia?
Di JaTINANGOR?
Ke kampus naik bis umpel-umpelan?
Lalu lintas macet?
Pernah naik kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya?
Pernah kebanjiran?
Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?

Ok, sekarang saya serius. Kalau Ada yang bertanya: apa sih yang bisa dibanggakan
for being Indonesian?
Maka jawaban saya adalah : Kita.
Kita harus bangga karena kita orang Indonesia bisa dan biasa hidup susah!!!

Becanda lagi nih?
Nggak, saya serius!! Saya nggak boong.
Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat pada saya (red: katanya harta yang berlimpah merupakan cobaan yang berat).

Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja "survival ability" ya) tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup di negara-negara mapan.

Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu ketika temannya - sebut saja Sarukh dan keluarganya - pamit pada boss saya pulang ke negara asalnya India yang murah meriah untuk menikmati pensiun dini, setelah 15 tahun kerja di Singapore.

Eh, belum satu tahun pamitan pulang ke India... si Sarukh sudah balik lagi ke Singapore, dan kali ini minta bantuan Boss saya untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore. What happened? Tanya boss saya.

Sarukh bercerita, setelah pulang ke India, anak remajanya yang dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan menjadi pasien tetap psikiater disana. Selidik punya selidik agaknya hal itu disebabkan karena anaknya Sarukh tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat mapan (Singapore) ke kondisi yang sebaliknya (India). Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup dalam kemapanan tidak punya "kemampuan bertahan waras" untuk hidup di negara yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya si Sarukh memutuskan menunda pensiun dini-nya dan kembali kerja di Singapore. Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta, pindah or berkunjung ke India sih nggak ada masalah.

Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan2 kerja saya berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk bawa obat sakit perut, dan selama di India hanya minum-minuman dari botol/kaleng. Kalau ke restoran local jangan sekali-kali minum air putih yang disediakan dari dari teko/ceret di restoran tersbut, karena kebersihan airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang asing tidak siap untuk itu; begitu nasehat boss saya.

Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India terdiri dari 5 orang. Satu orang dari Jepang, dua orang Singapore dan dua orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja di Singapore). Dalam 2 minggu kunjungan ke India, kolega dari Singapore dan Jepang langsung menderita diare di minggu pertama ke India. Diselidiki, kemungkinan penyebabnya adalah mereka pernah memesan kopi atau the di restoran local pada saat makan siang (yang tentunya tidak dari botol). Sementara si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya minum-minuman botol atau kaleng selama makan di restoran-restoran lokal, terkena diare diduga karena si orang jepang ini menggunakan air keran dari hotel untuk berkumur-kumur selama sikat gigi. Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia, sehat walafiat, tidak menderita suatu apapun selama di sana (mungkin karena di Indoneisa, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan yang mungkin airnya tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran India).

What is the moral of the story?

Kita harus bangga karena kita bisa lebih baik dari orang Jepang dan Singapore!!!
(at least, dalam hal ketahanan perut).

Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor (yang base-nya di Singapore) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio de Janeiro, Brazil. Total waktu tempuh saya dari Singapore ke hotel saya di Rio de Janeiro Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di Eropa). Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil, jalur yang paling umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika, terus ke Brazil. Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 Jam saya sudah bisa mencapai Brazil. Cuma, karena saya orang Indonesia, untuk transit di Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang mana proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya 2 minggu. Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu.

Alhasil, yah begitulah, saya harus memilih rute yang sebaliknya, mengeliling belahan bumi bagian barat, transit di Amsterdam, dengan waktu tempuhnya 6-10 jam lebih lama. Jadinya, cukup melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya juga orang Indonesia, harus terbiasa dengan hal-hal yang susah-susah.

Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11 Malam. Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti workshop di sana. Walaupun masih terasa lelah, saya tetap berusaha untuk terlibat aktif dalam workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan atau memberi masukan atas pertanyaan peserta lainnya.

Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari mereka mengeluh kecapaian dan menderita "jet lag", karena mereka telah menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di Brazil hari minggu siang, sehingga belum cukup waktu istirahat untuk adaptasi Jet lag, begitu keluh mereka. Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya mereka lebih beruntung dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam perjalanan dari Singapore, dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang dari 12 jam sebelum workshop dimulai.

Mereka tertegun, salah seorang dari mereka bertanya pada saya: "Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis khan?"
"Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi", jawab saya lagi. Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?), dan salah seorang dari mereka memuji. "Its very impressive, you guys Singaporean are really-really hard workers"
"I'm not Singaporean, I'm Indonesian working in Singapore" jawab saya dengan bangga.

Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan Kolega dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari Singapore 12 jam sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti workshop tersebut. Saya tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka, karena sewaktu makan malam, kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak pernah ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore? bertanya pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar setelah menempuh perjalanan begitu lama (ini berarti dia mendapatkan cerita saya dari kolega jerman lainnya).

Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab: "Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi dari Jakarta ke Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran. Kalau Anda terbiasa dengan alat transportasi ini - dimana tidak hanya species "Homo Sapiens" yang bisa menjadi penumpangnya, dan di tambah lagi waktu tempuhnya yang lama sekali karena hampir di setiap stasion harus berhenti, maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi terbang apapun yang di muka bumi ini".

Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya khawatir dia tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan, saya yakin mereka tidak bisa "survive" dengan alat transportasi ini, yang fasilitasnya tentu jauh dari kelas bisnis pesawat terbang (Note: kolega saya dari jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).

Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil, ntah karena terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah" (dari sudut pandang mereka) yang saya miliki, atau karena alasan lainnya, kolega saya dari Jerman yang saya temui di Brazil, menghubungi atasan saya yang intinya meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project yang saat ini sedang berjalan di sana.

Alhasil, bulan September - November saya akan bergabung dengan kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project disana. Cukup membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali pertama "Kantor Pusat" meminta bantuan dari kantor cabang untuk mensupport project yang sedang mereka kerjakan di kantor pusat.

Jadi setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca sekalian punya alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia. Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya "Anda dari mana?" Jawablah dengan bangga: Ya, Saya dari Indonesia, negara yang lagi susah, saya juga hidupnya susah, tapi saya bisa "survive", dan saya bangga karenanya!!!

Any problem???

gimana? ada yg bisa tambahkan alasan2 lain lagi untuk bangga dgn Indonesia?

Senin, 14 Juli 2008

Seni Menjawab 'Pertanyaan' Perempuan

(diposting dari Suara Merdeka Online)

Seringkali, perempuan menanyakan pertanyaan yang dilematis. Saat Anda menjawab sekenanya, ia akan tersinggung, namun bila dijawab apa adanya sesuai pikiran Anda, ia malah marah dan tidak terima. Ikuti beberapa tips berikut ini agar Anda tak lagi terjebak dalam situasi yang sulit.

Caranya adalah, tempatkan diri Anda pada posisinya. Cobalah memahami pertanyaaannya dari sudut pandang perempuan. Berikut sedikit contohnya.

Eh, tahu enggak, Doni telah mengkhianati Sarah?

Saat berada dalam keadaan seperti ini, berikan empati lebih kepada pihak perempuan. Anda harus berpendapat bahwa pihak perempuan lah yang dirugikan saat dikhianati. Tentu saja, bila dalam hal ini yang berkhianat adalah pihak laki-laki.

Anda harus memberikan komentar yang membela pihak yang 'tertindas', meskipun bila tokoh yang diceritakan hanyalah karakter dalam sebuah sinetron. Mungkin Anda tidak menganggapnya penting, tapi bagi perempuan, ini penting, untuk mengukur empati Anda.

Apakah menurutmu dia cantik?

Dia bisa saja menanyakan pertanyaan itu saat berbicara mengenai mantan pacar Anda, teman kerja, maupun gadis yang Anda berdua temui di mal. Siapa subjeknya, tidak penting. Perempuan hanya tidak mau merasa terancam posisinya oleh siapapun. Saat menghadapi pertanyaan ini, Anda boleh berkata jujur bahwa perempuan itu cantik, tapi jangan sampai terjebak dalam posisi lebih sulit dengan mengatakan dia lebih cantik daripada pasangan Anda.

Anda, sebaiknya, menyelipkan sedikit humor. Dan terakhir, tentu saja, lambungkan hatinya dengan mengatakan , "kamu lebih cantik."

Apakah kamu ingin berkencan dengan Angelina Jolie?

Tentu saja, kalau ada kesempatan, Anda ingin bertemu bahkan berkencan dengan Jolie. Tapi, jangan pernah katakan ini kepada pasangan Anda jika tak ingin ia marah-marah dan meninggalkan Anda dengan muka masam.

Menghadapi pertanyaan semacam itu, jawablah dengan santai, tidak terlalu serius, dan sedikit menggodanya. Anda tak perlu berbohong, namun pasangan Anda tidak kehilangan percaya diri. Misalnya, Anda bisa jawab dengan, "Jolie memang cantik, namun menurutku, bibirnya terlalu lebar. Lebih bagus bibirmu."

Mengapa temanku tega berbuat begitu?

Saat pasangan Anda merasa tersakiti oleh teman atau anggota keluarganya, Anda harus bisa menenangkannya, tanpa ikut-ikutan menjelek-jelekkan orang yang tidak disukainya.

Jumat, 09 Mei 2008

Samin is Never Ending

(Diposting dari Suara Merdeka Online)

RONG abad wis kliwat yen kepetung saka olehe Samin Surontika nangkarake ajarane kang sepinan ing Klopodhuwur, Blora. Walanda, kang banjur dadi pihak sing paling dimungsuhi nalika semana, uga wis sepuluh windu punjul oncat saka tanah Jawa. Ngancik alam kamardikan tumeka jaman reformasi, wong samin utawa sedulur sikep banjur entuk stigmatisasi minangka ‘’wong sing angel sraten-sratenane’’.

Ewasemono, ora banjur ateges ilang pamore Samin lan ajarane. Pancen yen disawang saka takeran kuantitatif, seprana-seprene ora saya tambah kanthi signifikan cacahe warga sing kegolong minangka sedulur sikep iki. Nanging sacara kualitatif, saminisme isih tetep rumasuk, rumesep ing sanubarine wong Jawa liyane sing embuh ing ngendi papane. Ora mung sing dedunung ing Klopodhuwur lan kiwa-tengene, nanging uga sing wis adoh papane satemah saminisme uga ngalami diaspora.

Dhapur ngelingake, taun 1905, wong-wong desa sing nganut ajarane Samin Surontika wiwit ngowahi tata cara uripe dibandhingake karo urip saben dinane ing desa. Wong-wong kuwi wis ora gelem maneh setor pari menyang lumbung desa lan ora gelem mbayar pajeg. Kejaba iku, ora gelem ngandhangake sapi lan kebone ing kandhang umum bareng karo sapine wong-wong liyane sing dudu klebu wong samin.

Nalika mandhor alas narik pajeg lemah, kanthi demonstratif wong-wong samin padha mlumah nong tengah-tengahe lemah karo mbengok, ‘’Kanggo!’’

Iku sing terus ndadekake para panguwasa lan wong-wong kutha sinis lan ngarani pergerakan mau mung minangka kumpulane wong-wong ora nduwe tata. Malah-malah didramatisasi kanthi falsafah Jawa kuno kang ngandhakake ‘’wong ora bisa basa’’. Akibate, sing padha nggilut ajarane Samin diece lan dikucilake saka pesrawungan.

Ora wurung, tumindak mokong mau ndadekake bingung lan jengkele pamong desa. Kanthi warga ora kurang saka limang ewu wong, wong-wong samin padha dirangket Pemerintah Kolonial ing Desa Kedhungtuban Blora, 1 Maret 1907 nalika dianaake slametan, kanthi pandakwa lagi tata-tata mbrontak.

Nanging ing taun iku uga, Samin Surontika ‘’disengkakake ngaluhur’’ dening para pendhereke minangka Ratu Adil kanthi sesebutan Prabu Panembahan Suryangalam. Kuciwane, patang puluh dina sawise kuwi, Samin Surontika dirangket dening Raden Pranono, Ndara Seten (Asisten Wedana) ing Randhublatung, Blora. Samin banjur dibuwang ing luwar Jawa nganti temuka pati ing Padang taun 1914.

Stigmatisasi

Kecekele Samin Sorantika ora ateges curese pergerakan Samin. Senajan akhire padha dicekel, para pendhereke sengkud olehe nggiyarake ajaran Samin nganti tumeka wilayah Madiun, Kayen Pati, Jatirogo Tuban, Grobogan, Bojonegoro, Undaan Kudus. Ing ngendi-ngendi papan, sedulur sikep padha mokong, ora gelem mbayar pajeg.

Ora mokal yen wong-wong Samin banjur diidentikake minangka golongane masyarakat sing ora kooperatif, ora tau mbayar pajeg, wegah rondha, senengane mokong karo mbantah. Malah ana uga pendakwa sing luwih nggegirisi, ateis.

Temene, gerakan Samin sekawit ora uwal minangka respons marang swastanisasi alas ing taun 1875 sing banjur nyahak tanah-tanahe keratin satemah nyengsaraake masyarakat lan maraake wong-wong ditundhung sanah tanah leluhure. Kamangka, manut panemune ajarane Samin: gur tameh eling bilih sira kabeh orak sanes turun Pandhawa, lan uwis nyipati kabrokalan krandhah Majapait sakeng kakrage wadya musuh. Mula sakuwit liyen kala nira Puntadewa titip tanah Jawa marang ing Sunan Kalijaga. Iku maklumat tuwila kajantaka.

Stigmatisasi marang Samin tetep lumaku nalika jaman Orde Baru. Nalika ana sawetara warga kang gelem ninggalake saminisme, dianggep minangka kedadean sing pantes dipahargya. Nikah massal sangang pasang warga Desa Karangrowo, Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 3 Januari 1997, upamane, digebyagake minangka pratandha manawa ajaran samin sing wis turun-temurun dianut dening sangang jodho mau ditinggalake.

Nanging tindakan represif lan stigmatisasi mau pranyata ora ndadekake pamore Samin dadi mbleret. Pancen, tinimbang padha diece, tinimbang tansah dianggep sarwanegatif wong-wong Samin banjur milih nganggo sebutan wong sikep, nanging Samin lan saminisme tetep ngambar-arum. Saminisme uga ngalami transformasi kanthi pratelan eskpresif lumantar kesenian rakyar sing urip ing tlatah Pati, Grobogan. Blora, lan Rembang utamane. Lan ing kono, kethoprak kanthi lakon Saridin kudu disebut sepisanan minangka ‘’neo-Samin’’.

Saiki, nalika ing saben dina sing ana mung sarwalamis lan apus-apusan, saya katon mencorong ajarane Samin Surontika lan tindak-tanduke sedulur sikep.

Apa ta temene ajarane Samin, kejaba mokong mbayar pajeg lan ngukuhi bumine dhewe? Ajaran-ajarane Samin temene wis ‘’dikodhifikasi’’ ana ing Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Sejati, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, lan Serat Lampahing Urip.

Nanging ing tradisi lisan, kerep muncul pratelan saka sedulur sikep kayadee ‘’agama iku gaman, adam pangucape, man gaman lanang’’, ‘’aja drengki, srei, tukar padu, dahpen kemeren. Aja kutil jumput, bedhog-colong’’.

Kejaba iku, ‘’sabar trokal empun ngantos drengki srei empun ngantos riya sapadha empun nganti pek-pinek kutil jumput bedhog colong. Napa malih bedhog colong, napa malih milik barang, nemu barang teng dalan mawon kula simpangi’’. Uga ‘’wong urip kudu ngerti uripe, sebab urip siji digawa selawase’’.

Mula, yen saben-saben ana kedadeyan sing kira-kira nggepok senggol karo adeg-adege, sedulur sikep ora bakal meneng wae. Sabisa-bisa bakal melu cancut taliwanda. Ora mung nalika bumi sing dadi hake bakal dienggo bancakan wong-wong sing sugih bandha donya, nanging uga nalika nyipati manawa sedulur liya mbutuhake pangentheng-entheng. Buktine nalika banjir gedhe ing wilayah Pati, awal 2008 kepungkur, sedulur sikep padha ‘’turun ke jalan’’, mbagekake sega buntelan kanggo para sopir lan kernet sing lagi padha kapiran.

Dadi, yen swargi Prof Dr Suripan Sadi Hutomo nate mratelaake manawa lestarine ajaran Samin amarga sinengkuyung dening tradisi lisan lan kang tinulis, temene isih perlu dikompliti. Samin, saminisme, lan sedulur sikep tetep wae mencorong pamore ing tengah-tengahe bebrayan sing sarwa ora tumata iki, amarga wis bisa nuduhake conto kang nyata lumantar tumindak. Ora mung kandheg ing pasal-pasal hukum sing gampang ditekuk lan dituku, nanging lumantar tumindak kang jumbuh karo pikukuh sejati lan pituduh liyane. Kanthi mangkono, never ending Samin, saminisme, lan sedulur sikep. (Sucipto Hadi Purnomo)

Selasa, 29 April 2008

Doa seorang Gadis Muslimah

Tuhanku,

Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau.
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.

Wajah ganteng dan daya tarik fisik tidaklah penting. Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menjadi seperti Engkau.
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas.
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi.
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada disebelahnya.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU. Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berikanlah RohMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku.
Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.
Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan "betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".

Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.

Cinta Berpijak pada Perasaan Sekaligus Akal Sehat

Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat.

Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan,standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal.

Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggunganjawab bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan.

Cinta membutuhkan proses !!!
Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. "Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks," katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu.

Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru.

Yang mungkin terjadi dalam fenomena "cinta pada pandangan pertama" adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda.

Dalam kasus "cinta pada pandangan pertama", banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar- benar mencinta. Mereka mencintai pasangan sebagai personalitas yang utuh.

Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.

Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.

Cinta itu konstruktif
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalahsehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah
Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit ( panacea ). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang-berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.

Cinta cenderung konstan
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.

Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa
menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.

Cinta tidak buta, tapi menerima
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.

Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan

Cinta berani melakukan hal menyakitkan
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata "tidak" saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.

Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan.

SURAT CINTA SEORANG HACKER

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
maka aku akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka
Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu,
tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouse proxy,
inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti pecundang
atau aku memang pecundang sejati whatever!

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection
Terus aku ls -la; find / -perm 777 -type d,
sehingga aku tau kalo dihatimu ada folder yang bisa ditulisi
atau adakah free space buat aku?.
apa aku harus pasang backdor "Remote Connect-Back Shell"
jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu saja,
biar aku tidak merana seperti ini.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
saat semua request-ku diterima aku akan nogkrong terus di bugtraq
untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch n pacth terus,
aku akan jaga service-mu jangan sampai crash n aku akan menjadi firewallmu
aku akan pasang portsentry, dan menyeting error pagemu
"The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone get out!"
aku janji nggak bakalan ada macelinious program atau service yang hidden,
karena aku sangat sayang dan mencintaimu.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
jangan ada kata "You dont have permission to access it" untuk aku,
kalau ga mau di ping flood Atau DDos Attack jangan ah....!
kamu harus menjadi sang bidadari penyelamatku.

Seandainya hatimu adalah sebuah system, ...?

Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system,
kamu adalah sang bidadari impianku,yang telah mengacaukan systemku!
Suatu saat nanti aku akan datang n mengatakan
kalau di hatiku sudah terinfeksi virus yang Menghanyutkan,
Ga ada anti virus yang dapat menangkalnya selain ...kamu.

Effisiensi yang membawa bencana (sebuah lelucon)


(diambil dari sebuah millis)

Minggu lalu, saya pergi makan siang bersama beberapa teman kantor di sebuah restoran yang kabarnya cukup laris di daerah Jakartakota (untuk yang belum tahu, di Jakarta ada yang dinamakan daerah kota). Saat memesan makanan, saya perhatikan pelayan yang melayani kami membawa sepasang sendok di saku bajunya. Sedikit aneh, tapi saya tidak begitu peduli.

Namun, saat pesanan kami mulai diantar, saya melihat pelayan lain membawa pula sepasang sendok disaku bajunya. Saya jadi tertarik untuk melihat sekeliling dan ternyata memang benar dugaan saya, semua pelayan restoran tersebut membawa sepasang sendok di saku baju masing-masing.

Saya jadi ingin bertanya. “Mas kenapa semua pelayan di sini membawa sepasang sendok di sakunya?” tanya saya pada pelayan yang datang membawa sepiring sate.

“Oh begini mas,” jawab si pelayan, “pemilik restoran ini memutuskan untuk menyewa Andersen Consulting, ahli dalam hal analisa efisiensi kerja, untuk memperbaiki kinerja di restoran ini. Setelah mereka analisa selama beberapa bulan, mereka menyimpulkan bahwa pelanggan restoran ini menjatuhkan sendok makan mereka sebanyak 73,84 persen lebih sering dibandingkan peralatan makan lain yang ada di meja. Menurut Andersen Consulting, itu berarti rata rata 3 pelanggan menjatuhkan sendok per meja setiap jamnya. Jika saja semua karyawan restoran mengantisipasi hal itu, berarti kita bisa mengurangi waktu yang terbuang untuk pulang pergi ke dapur mengambil sendok pengganti dan menghemat waktu 1,5 jam waktu kerja per-shift.”

Saking kagumnya dengan penjelasan si pelayan, tanpa sengaja saya menyenggol salah satu sendok yang ada di meja. Segera saja si pelayan mengambil gantinya dari saku baju sambil berujar, “Betulkan Pak, saya tidak harus pergi ke dapur sekarang untuk mengambil sendok pengganti untuk Bapak!” Saya hanya bisa melongo dengan kejadian itu. Tapi, kisah belum berakhir di situ. Ketika pelayan lain menghidangkan pesanan tambahan, saya tetap memperhatikan sekeliling dan satu lagi hal tampak aneh. Saya perhatikan hampir semua pelayan pria memasang benang yang menyembul di ujung ritsluiting celana mereka. Benang itu diikaitkan ke ujung kancing terbawah dari baju. Lagi lagi rasa ingin tahu mengusik saya. Sebab, ternyata pelayan perempuan tak memakai aksesoris benang tersebut. Ketika si pelayan tadi datang, saya menanyakan soal benang itu.

“Wah Bapak ini orangnya perhatian sekali ya. Tidak semua pelanggan di sini memperhatikan hal-hal sedetail Bapak lho..,” puji si pelayan sedikit menggombal. Saya hanya tersenyum kecil. Apa anehnya orang suka memperhatikan detail?

“Ini juga hasil analisa Andersen Consulting Pak,” katanya melanjutkan, “Mereka menyimpulkan bahwa kami pun harus menghemat waktu yang kami habiskan di kamar kecil ketika buang air kecil. Dengan tali yang dikaitkan ke si “Adik” ini (katanya sambil menunjuk tali itu), kami tidak harus menggunakan tangan ketika mengeluarkannya. Berarti kami akan terbebaskan dari keharusan membasuh tangan setelah buang air kecil. Dan itu menghemat waktu yang terbuang di kamar kecil sebesar 25,92 persen.”

Hampir tersedak saya mendengarkan penjelasan itu. “Memang, dengan tali itu tangan jadi terbebas untuk memegang si Adik”. Tapi, bagaimana caranya untuk memasukkannya kembali ke posisi semula?” tanya saya menyelidik. Dengan setengah berbisik si pelayan berucap, “Andersen Consulting tidak menjelaskan secara spesifik tentang hal itu. Nggak tahu dengan yang lain sih Pak. Tapi, kalau saya sih pakai sendok yang ada disaku baju ini....”

Opps....., hampir tersedak aku mendengar jawabannya. Tiba-tiba saja aku jadi tidak lagi berselera untuk melanjutkan makan siangku...

Senin, 28 April 2008

Beda Pribumi, Bule dan China (sebuah renungan)

(diambil dari sebuah millis)

Saya seorang pribumi yg dulunya benci setengah mampus sama WNI Keturunan Cina. Tetapi setelah hidup di Amerika selama 10 tahun dan sekarang bekerja di salah satu bank terbesar di dunia berpusat di NewYork City, pandangan saya berubah dan mengerti mengapa Cina itu berbeda dengan orang pribumi. Dan sebenarnya banyak sekali hal-hal yg kita tidak mengerti tentang cina, dan hal-hal ini sebenarnya harus kita ketahui dan kita pikirkanlagi, karena hal-hal ini adalah sesuatu yg bisa kita pakai untukkepentingan bangsa sendiri dan utk memajukan bangsa sendiri. Bukan saya bilang bahwa kita harus berubah jadi Cina, cuma kalau memang bagus mengapa tidak ? Dan memang ada juga hal-hal buruknya, tetapi semua bangsa juga punya.

Marilah saya mulai pendapat saya tentang perbandingan antara WNI asli dan keturunan cina :

Perbedaan2 nyata Setelah bekerja tiga tahun lebih dan punya teman dekat orang bule dan orang Cina dari Shanghai di tempat kerja saya, saya melihat banyak sekali perbedaan-bedaan, diantaranya :

A. DUIT
  • Si bule, kalo gajian langsung ke bar, minum-minum sampe mabuk, beli baju baru, beli hadiah macam-macam untuk istrinya. Dan sisanya 10% disimpan di bank. Langsung makan-makan direstoran mahal, apalagi baru gajian.
  • Si Cina, kalau gajian langsung disimpan di bank, kadang-kadang diinvest lagi di bank, beli saham, atau dibungain. Bajunya itu2 saja sampe butut. Saya pernah tanya sama dia, duitnya yg disimpen ke bank bisa sampe 75%-80% dari gaji.
  • Saya sendiri. kalo gajian biasanya boleh deh makan-makan sedikit, apalagi baru gajian, beli baju kalo ada yg on-sale (lagi di discount), beli barang-barang kebutuhan istri, sisanya kira-kira tinggal 15-20% terus disimpen di bank.

*** Kebanyakan di Amerika, orang Cina yang kerja kantoran (sebenarnya Korea dan Jepang uga) muda-muda sudah bisa naik mobil bagus dan bias mulai beli rumah mewah. walaupun orang tuanya bukan konglomerat dan bukan mafia di Cinatown. Malah mereka beli barang senangnya cash,bukan kredit. Soalnya mereka simpan duitnya benar-benar tidak bisa dikalahkan oleh bangsa lain. kalau bule atau orang hitam musti ngutang sampe tau baru bisa lunas beli rumah.

B. KERJAAN
  • si Bule, abis kerja (biasanya jam kerja jam 8 pagi - 6 sore) hari Senen sampai hari Jumat (Sabtu dan minggu tidak kerja)) ke bar ato makan-makan ngabisin gaji. Kalau disuruh lembur tiba-tiba, biasanya kesel-kesel sendiri di kantor. Biasanya kalo hari Senen, si bule tampangnya kusut, soalnya masih lama sampe hari Sabtu, pikirannya weekend melulu. Kalo hari Kamis, sibule males kerja, pikirannya hari Jumat melulu. Terus jalan-jalan gosip kiri kanan.
  • si Cina, habis kerja langsung pulang ke rumah, masak sendiri, nggak pernah makan diluar (saya sering ngajak dia makan, cuma tidak pernah mau, mahal katanya, musti simpan duit, kecuali kalo ada hari-hari khusus). Kalau disuruh lembur tidak pernah menolak, malah sering menawarkan diri untuk kerja lembur. Kalau disuruh kerja hari sabtu atau hari minggu juga pasti mau. Kadangkadang dia malah kerja part-time (bukan sebagai pegawai penuh) di perusahaan lain untuk menambah uangnya.
  • saya sendiri, kalau disuruh lembur, agak malas juga kadang-kadang karena sudah punya rencana keluar pergi makan sama teman-teman kantor. Kadang-kadang ingin sekali pulang kerumah karena di kantor melulu, cuma mau nggak mau mesti kerja (jadi kesannya terpaksa, nggak seperti si cina yg rela). Weekend paling malas kalau musti kerja.
*** Bos-bos juga biasanya suka sama orang Cina kalau soal kerjaan. Mereka soalnya pekerja yg giat dan tidak pernah bilang "NO" sama boss. Dapat kerja juga gampang kalau mukanya cina, karena dipandang sebagai "Good Worker". Atau pekerja giat. Jarang sekali, kecuali penting sekali dia tidak bersedia kerja lembur. Dan kalaupun tidak bersedia lembur, biasanya dia akan datang sabtu atau minggu, atau kerja lembur besoknya.

C. RUMAH
  • Apartment si bule, wah bagus sekali. gayanya kontemporari. Penuh dengan barang-barang perabotan dan furniture mahal. Pokoknya gajinya pasti abis ngurusin apartment dia.
  • Apartment si cina, wah... kacau. Cuma ranjang satu, dilantai saja Meja butut, dan dua kursi butut. TV nya kecil sekali, TV kabel saja tidak punya. Pokoknya sederhana sekali. Waktu saya tanya, dia bilang"bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." daerahnya pun bukan didaerah mahal, tempatnya di daerah kumuh dan kurang ada yg mau tinggal.
  • Apartment saya sendiri, yah lumayan, cuma istri saya suka juga merias rumah. Jadi apartment saya lumayan lah tidak seperti punya si Cina. Saya benar-benar salut dia bisa hidup begitu. Padahal duitnya di bank banyak. Gaji dia saja lebih tinggi dari saya karena lebih lama di perusahaan tersebut.
*** Setelah 10 taun, biasanya si bule, orang item, masih tinggal di apartment atau baru ngutang beli rumah, si cina sudah bisa beli rumah sendiri. Karena nabung dengan giatnya, dan cuma beli yg penting-penting saja. Jadi uangnya ditabungkan sendiri.

*** Disini saja saya bisa lihat perbedaan-bedaan nyata, saya pertama-tama pikir, wah si Cina ini pelit amat. Masa duit banyak kayak begitu disimpan saja di bank. Dan kalau kita banding-bandingkan dengan sejarah orang-orang cina, kita akan tahu kenapa mereka (Cina) itu dalam long-range nya (jangka panjang nya) lebih maju dari pribumi di Indonesia, karena saya sempat bertukar pikiran dengan beberapa teman lagi orang Cina lainnya, orang India, orang Arab, orang Jerman, orang Amerika, dan orang Cina ini sendiri. Kita musti tau sejarahnya orang Cina ini.

Masyar


Masyar, sebuah kata yang aneh dan sulit untuk memaknainya.
kata itu muncul begitu saja ketika saya mencari sebuah kata padanan untuk menandai tulisan-tulisan saya. Kata masyar berasal dari nama panggilan saya sewaktu kecil yaitu mas Achyar. Sebuah panggilan khas 'orang jawa' untuk menghormati pada yang lebih tua.

Saya terlahir dengan nama Achyar thok, nggak ada embel-embel lain dibelakangnya. Saya juga tidak begitu paham dengan arti nama saya tersebut dan kenapa nama saya begitu pendek dan berbau kearab-araban, padahal saya orang jawa tulen. Tapi menurut Bapak saya nama tersebut adalah pemberian kakek saya (Alm. Kyai Moesman), seorang kyai/ulama ahli falaq (ilmu perbintangan) yang cukup terkemuka di kota Semarang (kota kelahiran saya). Kakek saya meninggal tahun 1971 ketika saya masih berumur 5 tahun, sehingga saya tidak sempat untuk menanyakan secara langsung tentang nama saya tersebut.

Di kota kelahiran saya, nama saya terdengar agak aneh. Maklum dilingkungan orang jawa yang kental dengan budaya jawa. Hampir semua nama laki-laki selalu menggunakan huruf 'o' dibelakang namanya (Suharto, Sukarno, Prawiro, dll), tapi nama saya agak terdengar aneh ditelinga orang jawa.

Saya juga memiliki kesulitan saat memperkenalkan diri pada rekan-rekan saya, ketika saya menyebutkan nama, maka mereka akan kesulitan untuk segera mengingat dan menghafalnya. Butuh waktu beberapa lama untuk bergaul agar dapat mengingat dan menghafal nama saya.

Sampai saat remaja saya merasakan betapa pendeknya nama saya dan sangat asing ditelinga orang Indonesia. Sampai-sampai saya harus menambahkan huruf MS (inisial dari nama orang tua saya), agar terlihat lebih 'wasis', lebih pantes, dan lebih enak untuk didengar. Dengan begitu saya memperkenalkan diri dengan nama Achyar. MS, kelihatan lebih keren dan lebih percaya diri dibanding nama saya sebelumnya, hehehe...